Lukas Do, Kepala Marga Do, sudah lebih dari seminggu bolak balik berurusan dengan petugas Polres Kabupaten Sorong di Aimas. Perkaranya, anak dari Lukas Do, yakni Joni Do, menjadi tahanan Polres Kabupaten Sorong, sejak tanggal 22 Juni 2016, menyusul tindakan Joni Do memukul manager pemanenan perusahaan perkebunan kelapa sawit PT. Hendrison Inti Persada (HIP), bernama Otto Tandu.

“Joni tidak terima dirinya di PHK dan terpaksa pukul manager, karena tidak ada kejelasan alasan pelanggaran dan masalah. Perusahaan juga hanya kase uang pesangon Rp. 1 juta”, kata Lukas Do.

Semenjak awal Mei 2016 lalu, perusahaan PT. HIP telah mengeluarkan sekitar 22 orang buruh dan kebanyakan mereka adalah Orang Asli Papua, pemilik tanah pada areal perkebunan kelapa sawit perusahaan PT. Henrison Inti Persada (HIP). Lukas Do termasuk salah satu pemilik tanah pada areal perkebunan disekitar Kampung Malalilis, Distrik Klayili, Kabupaten Sorong, Papua Barat.

Diduga aksi perusahaan main pecat sebagai buntut dari protes masyarakat adat pemilik tanah yang menuntut penyelesaian pembayaran kompensasi tanah dan hutan adat yang dibabat dan dijadikan kebun kelapa sawit PT. HIP.

“Saya tuntut marga punya hak, tapi ini masyarakat yang di hukum terus, ini tidak adil”, ungkap Lukas Do, yang masih mempertanyakan penyelesaian hak-hak mereka.

Marga pemilik tanah kebanyakan mengeluhkan kurangnya tanggapan pemerintah dalam menyelesaikan masalah dan keberadaan perusahaan yang tidak mendatangkan manfaat, penduduk dirugikan, janji perusahaan tidak ditepati, hak-hak buruh tidak dipenuhi dan penduduk asli berhadapan dengan permasalahan hukum.

“Kalo begitu perusahaan stop kerja saja dan kembalikan tanah kami”, permintaan Lukas Do.

Ank, Juli 2016

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Lukas Do, Kepala Marga Do, sudah lebih dari seminggu bolak balik berurusan dengan petugas Polres Kabupaten Sorong di Aimas. Perkaranya, anak dari Lukas Do, yakni Joni Do, menjadi tahanan Polres Kabupaten Sorong, sejak tanggal 22 Juni 2016, menyusul tindakan Joni Do memukul manager pemanenan perusahaan perkebunan kelapa sawit PT. Hendrison Inti Persada (HIP), bernama Otto Tandu.

    “Joni tidak terima dirinya di PHK dan terpaksa pukul manager, karena tidak ada kejelasan alasan pelanggaran dan masalah. Perusahaan juga hanya kase uang pesangon Rp. 1 juta”, kata Lukas Do.

    Semenjak awal Mei 2016 lalu, perusahaan PT. HIP telah mengeluarkan sekitar 22 orang buruh dan kebanyakan mereka adalah Orang Asli Papua, pemilik tanah pada areal perkebunan kelapa sawit perusahaan PT. Henrison Inti Persada (HIP). Lukas Do termasuk salah satu pemilik tanah pada areal perkebunan disekitar Kampung Malalilis, Distrik Klayili, Kabupaten Sorong, Papua Barat.

    Diduga aksi perusahaan main pecat sebagai buntut dari protes masyarakat adat pemilik tanah yang menuntut penyelesaian pembayaran kompensasi tanah dan hutan adat yang dibabat dan dijadikan kebun kelapa sawit PT. HIP.

    “Saya tuntut marga punya hak, tapi ini masyarakat yang di hukum terus, ini tidak adil”, ungkap Lukas Do, yang masih mempertanyakan penyelesaian hak-hak mereka.

    Marga pemilik tanah kebanyakan mengeluhkan kurangnya tanggapan pemerintah dalam menyelesaikan masalah dan keberadaan perusahaan yang tidak mendatangkan manfaat, penduduk dirugikan, janji perusahaan tidak ditepati, hak-hak buruh tidak dipenuhi dan penduduk asli berhadapan dengan permasalahan hukum.

    “Kalo begitu perusahaan stop kerja saja dan kembalikan tanah kami”, permintaan Lukas Do.

    Ank, Juli 2016

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on