Perjanjian perdamaian antara suku Maybrat dengan Suku Kaiso pasca tahun 1914 m, dilakukan sumpah adat antara suku Maybrat antara marga Sowe, Wetaku, Akum, Worait dan suku Kaiso antaranya Saimar, Kaitau, Asikasau dan disaksikan oleh marga Sira.

Lokasi tempat keramat tersebut berada tak jauh dari areal sawit PT Putra Manunggal Perkasa di disrik Kais dan Kais Darat, Sorong Selatan-Maybrat, selatan Pulau Papua.

Sewaktu sumpah adat dilakukan, ditandai dengan bulu bulu binatang buas (kasuari, kulit ular, taring babi), di ikat pada sebuah bambu tui, lalu di tancapkan ke pohon ini. Sebagai simbol/tanda perdamaian dari era perang hongi.

bekas berwarna merah di pohon sekitar ataf tbior

bekas berwarna merah di pohon sekitar ataf tbior

Perdamaian ini kemudian dilakukan dengan cara masing-masing pimpinan memegang bambu (Bosiak akum dengan Nati Nawir Asikasau) lalu dipotong oleh Kapitan Arit Wetaku. Sejak itulah dimulainya sumpah adat berakhirnya perang hongi.

Perdamaian ini juga dilanjutkan dengan pembagian wilayah adat. Dimana marga Kaiso disepakati wilayahnya dari kali Sisyam sebelah selatan. Sedangkan marga Wetaku disepakati batas wilayah dari kali Sisyam sebelah utara. Sementara marga Sowe dari dusun Sahair/Ataf Tbior sebelah timur.

Sejak sumpah perdamaian dicetuskan, tidak pernah ada konflik antar marga lagi. Namun, baru baru ini, pasca beroperasinya perusahaan sawit, konflik marga kembali terjadi.

Arkilaus Baho

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Perjanjian perdamaian antara suku Maybrat dengan Suku Kaiso pasca tahun 1914 m, dilakukan sumpah adat antara suku Maybrat antara marga Sowe, Wetaku, Akum, Worait dan suku Kaiso antaranya Saimar, Kaitau, Asikasau dan disaksikan oleh marga Sira.

    Lokasi tempat keramat tersebut berada tak jauh dari areal sawit PT Putra Manunggal Perkasa di disrik Kais dan Kais Darat, Sorong Selatan-Maybrat, selatan Pulau Papua.

    Sewaktu sumpah adat dilakukan, ditandai dengan bulu bulu binatang buas (kasuari, kulit ular, taring babi), di ikat pada sebuah bambu tui, lalu di tancapkan ke pohon ini. Sebagai simbol/tanda perdamaian dari era perang hongi.

    bekas berwarna merah di pohon sekitar ataf tbior

    bekas berwarna merah di pohon sekitar ataf tbior

    Perdamaian ini kemudian dilakukan dengan cara masing-masing pimpinan memegang bambu (Bosiak akum dengan Nati Nawir Asikasau) lalu dipotong oleh Kapitan Arit Wetaku. Sejak itulah dimulainya sumpah adat berakhirnya perang hongi.

    Perdamaian ini juga dilanjutkan dengan pembagian wilayah adat. Dimana marga Kaiso disepakati wilayahnya dari kali Sisyam sebelah selatan. Sedangkan marga Wetaku disepakati batas wilayah dari kali Sisyam sebelah utara. Sementara marga Sowe dari dusun Sahair/Ataf Tbior sebelah timur.

    Sejak sumpah perdamaian dicetuskan, tidak pernah ada konflik antar marga lagi. Namun, baru baru ini, pasca beroperasinya perusahaan sawit, konflik marga kembali terjadi.

    Arkilaus Baho

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on