2 September 2016

JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah dinilai kurang menaruh perhatian pada kebakaran hutan dan lahan di Papua. Laporan menyebut titik api berasal dari lahan masyarakat. Bukti di lapangan dan citra satelit, khususnya di Merauke dan Boven Digul tiga tahun terakhir, kebakaran di area konsesi korporasi.

Terkait itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan didesak memberi sanksi tegas bagi perusahaan pembakar, di antaranya menepati janji Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar mengambil alih lahan korporasi yang terbukti sengaja membakar. Mereka juga mendesak agar perintah Presiden Joko Widodo untuk memoratorium perluasan kebun sawit segera dijalankan.

Desakan itu muncul dalam peluncuran laporan investigasi “Surga yang Terbakar” yang disusun Sekretariat Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Agung Merauke, Yayasan Pusaka, Federasi Korea untuk Gerakan Lingkungan, dan Mighty, Kamis (1/9), di Jakarta. Laporan mengungkap pembukaan dan pembersihan lahan dengan membakar yang dilakukan perusahaan perkebunan sawit di bawah Korindo Group.

Direktur Mighty Asia Tenggara Bustar Maitar memaparkan, investigasinya pada 4 Juni 2016, PT Papua Agro Lestari (Korindo Group) melakukan stacking atau penumpukan sisa kayu dan ranting hasil pembersihan lahan. Metode itu umum dilakukan untuk membakar lahan.

Ia membandingkan foto aerial Greenpeace Indonesia di konsesi PT Berkat Cipta Abadi (Korindo Group) pada 26 Maret 2013. Asap mengepul dari tumpukan-tumpukan kayu sisa.

“Kami tidak ingin hutan Papua berakhir seperti Sumatera dan Kalimantan. Belum lagi sosial masyarakat yang terganggu karena kehilangan hutan sumber penghidupannya,” kata Bustar.

“Info ini berharga buat kami untuk diskusi internal. Soal kebakaran memang betul, apa yang mau kami bantah,” kata Luwy, staf teknis lapangan Korindo Group yang datang bersama rekannya ke peluncuran laporan.

Dalam pernyataan resmi melalui surat elektronik, Korindo Group menyebut masyarakat sebagai pihak pembakar untuk berburu satwa liar. Korindo menegaskan telah memiliki kebijakan tanpa bakar di kebunnya.

Dirjen Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Rasio Ridho Sani mengatakan, pihaknya akan meneruskan laporan itu ke Balai Penegakan Hukum di Papua.

“Segera kami pelajari laporannya untuk menentukan langkah pengumpulan bahan dan keterangan,” katanya.

Ia mengatakan, pemerintah tidak melupakan Papua. Hanya saja, saat kebakaran tahun lalu, perhatian terlalu tertuju pada kebakaran di lahan gambut Sumatera dan Kalimantan.

Adapun Direktur Eksekutif Yayasan Pusaka Yafet Leonard Franky mengatakan, tidak hanya Korindo Group yang membuka lahan dengan cara membakar di Papua. Cara itu, katanya, jamak digunakan pemilik konsesi kebun sawit lain di Papua.

Data Pusaka, saat ini, terdapat 20 perusahaan sawit yang beroperasi di Papua. “Total 2,3 juta hektar luas kebun sawit di Papua,” ucapnya. (ICH)

Sumber: http://print.kompas.com/baca/sains/lingkungan/2016/09/02/Sumber-Asap-dari-Area-Lahan-Konsesi 

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    2 September 2016

    JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah dinilai kurang menaruh perhatian pada kebakaran hutan dan lahan di Papua. Laporan menyebut titik api berasal dari lahan masyarakat. Bukti di lapangan dan citra satelit, khususnya di Merauke dan Boven Digul tiga tahun terakhir, kebakaran di area konsesi korporasi.

    Terkait itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan didesak memberi sanksi tegas bagi perusahaan pembakar, di antaranya menepati janji Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar mengambil alih lahan korporasi yang terbukti sengaja membakar. Mereka juga mendesak agar perintah Presiden Joko Widodo untuk memoratorium perluasan kebun sawit segera dijalankan.

    Desakan itu muncul dalam peluncuran laporan investigasi “Surga yang Terbakar” yang disusun Sekretariat Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Agung Merauke, Yayasan Pusaka, Federasi Korea untuk Gerakan Lingkungan, dan Mighty, Kamis (1/9), di Jakarta. Laporan mengungkap pembukaan dan pembersihan lahan dengan membakar yang dilakukan perusahaan perkebunan sawit di bawah Korindo Group.

    Direktur Mighty Asia Tenggara Bustar Maitar memaparkan, investigasinya pada 4 Juni 2016, PT Papua Agro Lestari (Korindo Group) melakukan stacking atau penumpukan sisa kayu dan ranting hasil pembersihan lahan. Metode itu umum dilakukan untuk membakar lahan.

    Ia membandingkan foto aerial Greenpeace Indonesia di konsesi PT Berkat Cipta Abadi (Korindo Group) pada 26 Maret 2013. Asap mengepul dari tumpukan-tumpukan kayu sisa.

    “Kami tidak ingin hutan Papua berakhir seperti Sumatera dan Kalimantan. Belum lagi sosial masyarakat yang terganggu karena kehilangan hutan sumber penghidupannya,” kata Bustar.

    “Info ini berharga buat kami untuk diskusi internal. Soal kebakaran memang betul, apa yang mau kami bantah,” kata Luwy, staf teknis lapangan Korindo Group yang datang bersama rekannya ke peluncuran laporan.

    Dalam pernyataan resmi melalui surat elektronik, Korindo Group menyebut masyarakat sebagai pihak pembakar untuk berburu satwa liar. Korindo menegaskan telah memiliki kebijakan tanpa bakar di kebunnya.

    Dirjen Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Rasio Ridho Sani mengatakan, pihaknya akan meneruskan laporan itu ke Balai Penegakan Hukum di Papua.

    “Segera kami pelajari laporannya untuk menentukan langkah pengumpulan bahan dan keterangan,” katanya.

    Ia mengatakan, pemerintah tidak melupakan Papua. Hanya saja, saat kebakaran tahun lalu, perhatian terlalu tertuju pada kebakaran di lahan gambut Sumatera dan Kalimantan.

    Adapun Direktur Eksekutif Yayasan Pusaka Yafet Leonard Franky mengatakan, tidak hanya Korindo Group yang membuka lahan dengan cara membakar di Papua. Cara itu, katanya, jamak digunakan pemilik konsesi kebun sawit lain di Papua.

    Data Pusaka, saat ini, terdapat 20 perusahaan sawit yang beroperasi di Papua. “Total 2,3 juta hektar luas kebun sawit di Papua,” ucapnya. (ICH)

    Sumber: http://print.kompas.com/baca/sains/lingkungan/2016/09/02/Sumber-Asap-dari-Area-Lahan-Konsesi 

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on