Kontradiksi kepentingan ekonomi para pemodal dan praktik ekonomi rakyat terus berlangsung. Di Papua, pertentangan tersebut menghancurkan dan memaksa perubahan tatanan produksi masyarakat adat Papua. Para peramu tradisional yang hidup tergantung pada hasil hutan dan dusun sagu, kehilangan kontrol dan alat produksi, setalah masuknya industri berbasis tanah dan hasil hutan. Mereka terpaksa menjadi buruh dan terancam punah.

Pada pertengahan April 2016 lalu, operator perusahaan perkebunan kelapa sawit PT. Nabire Baru dan dikawal aparat Brimob, membongkar kawasan hutan dusun sagu Manawari di Kampung Sima, Distrik Yaur, Nabire, Provinsi Papua. Beberapa warga sempat mencegat aksi penggusuran, mereka berdalih bahwa masyarakat sudah bermusyawarah pada Februari 2016 dan hasilnya mereka sepakat tidak ada pembongkaran dusun sagu. Pembongkaran dihentikan sebentar dan lalu lanjut kembali saat warga tidak mengawasi.

Sejak beroperasinya perusahaan PT. Nabire Baru dan PT. Sariwana Adi Perkasa di wilayah adat Suku Yerisiam, sudah belasan ribu hektar kawasan hutan dan dusun sagu dibongkar, mulai dari Kali Wami hingga hutan dekat Kampung Sima. Kini, perusahaan punya rencana membuka kawasan dusun sagu Manawari sebagai lahan baru untuk kebun plasma masyarakat setempat. Seolah-olah berniat baik dan tentu untuk menggandakan kepentingan produksi perusahaan.

Saat ini, masyarakat adat Yerisiam di Kampung Sima berkeras, mereka menolak pembongkaran dusun sagu Manawari karena dusun tersebut merupakan sumber pangan dan ekonomi mereka yang tersisa. Apalagi daerah Dusun Sagu Manawari dan sekitarnya, merupakan tempat keramat dan sebagai “mas kawin” masyarakat. Dusun sagu ini juga jadi kawasan pertahanan ekologi untuk mencegah banjir dan limpahan air dari kanal-kanal perkebunan kelapa sawit agar tidak sampai ke kampung yang berada diantara dusun sagu dan pantai.

Masyarakat Yerisiam terbelah, segelintir dari mereka yang menggantungkan diri dari ekonomi sawit perusahaan tetap melegitimasi penggusuran dusun sagu. Mereka berdalih ingin juga sejahtera dari memiliki sendiri kebun sawit. Perubahan pandangan ini terjadi seiring dengan kehadiran korporasi, mereka jadi tergantung pada ekonomi sawit yang dikendalikan perusahaan, utamanya dialami oleh mereka  yang kehilangan sumber mata pencaharian.

Doli Numberi, salah satu dari perempuan di Kampung Sima, yang menentang keras penggusuran dusun sagu di Manawari dan sekitarnya.

“Sagu adalah air susu ibu kami, jadi kalau ini dimusnahkan sama saja dorang (perusahaan) sudah musnahkan kami Orang Papua. Karena itu, kami tidak setuju penggusuran dusun sagu, apapun yang terjadi. Kami sudah ada keputusan dari batin hati. Kami tanggung sendiri akibatnya baik atau tidak”, jelas mama Doli tegas.

Mama Doli juga menjelaskan manfaat dari Dusun Sagu yang sudah menghidupkan masyarakat turun temurun, “Sudah dari moyang kami sampai sekarang, kami hidup dari sagu, untuk makanan, obat melahirkan, ramuan rumah dan pendapatan uang, sampai kami sudah jadi manusia sekarang. Kalau ini dimusnahkan, kami mau hidup dengan apa, anak cucu kami mau makan apa. Karenanya, dusun sagu tetap tinggal pada posisi yang sudah ditanam oleh Tuhan yang dikaruniakan di tanah Papua ini”, jelas mama Doli.

Pada Rabu, 28 September 2016, Ravin dan Imam dari RSPO, mengunjungi Dusun Sagu yang tergusur dan berdialog dengan masyarakat adat Yerisiam di Kampung Sima. Edi Suhardi dari Goodhope di Jakarta dan Kipli Anak Ayom, GM PT. Nabire Baru, juga ikut dalam pertemuan. Mama Doli dan perempuan Yerisiam lainnya hadir di Balai Adat Yerisiam. Mereka turut berbicara dan terlibat dalam ketegangan perdebatan penggusuran dusun sagu.

Mirna Hanebora mengungkapkan perasaannya dalam pertemuan tersebut, “Dusun sagu ini ibarat perut masyarakat, kalau kamorang (kalian) bongkar dusun sagu sama saja kamorang bongkar perut kami masyarakat, makanya kami marah. Sampai kapanpun kami menolak penggusuran dusun sagu, mohon perusahaan hargai kehidupan kami”, ungkap Mirna.

Ank, Sept, 2016

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Kontradiksi kepentingan ekonomi para pemodal dan praktik ekonomi rakyat terus berlangsung. Di Papua, pertentangan tersebut menghancurkan dan memaksa perubahan tatanan produksi masyarakat adat Papua. Para peramu tradisional yang hidup tergantung pada hasil hutan dan dusun sagu, kehilangan kontrol dan alat produksi, setalah masuknya industri berbasis tanah dan hasil hutan. Mereka terpaksa menjadi buruh dan terancam punah.

    Pada pertengahan April 2016 lalu, operator perusahaan perkebunan kelapa sawit PT. Nabire Baru dan dikawal aparat Brimob, membongkar kawasan hutan dusun sagu Manawari di Kampung Sima, Distrik Yaur, Nabire, Provinsi Papua. Beberapa warga sempat mencegat aksi penggusuran, mereka berdalih bahwa masyarakat sudah bermusyawarah pada Februari 2016 dan hasilnya mereka sepakat tidak ada pembongkaran dusun sagu. Pembongkaran dihentikan sebentar dan lalu lanjut kembali saat warga tidak mengawasi.

    Sejak beroperasinya perusahaan PT. Nabire Baru dan PT. Sariwana Adi Perkasa di wilayah adat Suku Yerisiam, sudah belasan ribu hektar kawasan hutan dan dusun sagu dibongkar, mulai dari Kali Wami hingga hutan dekat Kampung Sima. Kini, perusahaan punya rencana membuka kawasan dusun sagu Manawari sebagai lahan baru untuk kebun plasma masyarakat setempat. Seolah-olah berniat baik dan tentu untuk menggandakan kepentingan produksi perusahaan.

    Saat ini, masyarakat adat Yerisiam di Kampung Sima berkeras, mereka menolak pembongkaran dusun sagu Manawari karena dusun tersebut merupakan sumber pangan dan ekonomi mereka yang tersisa. Apalagi daerah Dusun Sagu Manawari dan sekitarnya, merupakan tempat keramat dan sebagai “mas kawin” masyarakat. Dusun sagu ini juga jadi kawasan pertahanan ekologi untuk mencegah banjir dan limpahan air dari kanal-kanal perkebunan kelapa sawit agar tidak sampai ke kampung yang berada diantara dusun sagu dan pantai.

    Masyarakat Yerisiam terbelah, segelintir dari mereka yang menggantungkan diri dari ekonomi sawit perusahaan tetap melegitimasi penggusuran dusun sagu. Mereka berdalih ingin juga sejahtera dari memiliki sendiri kebun sawit. Perubahan pandangan ini terjadi seiring dengan kehadiran korporasi, mereka jadi tergantung pada ekonomi sawit yang dikendalikan perusahaan, utamanya dialami oleh mereka  yang kehilangan sumber mata pencaharian.

    Doli Numberi, salah satu dari perempuan di Kampung Sima, yang menentang keras penggusuran dusun sagu di Manawari dan sekitarnya.

    “Sagu adalah air susu ibu kami, jadi kalau ini dimusnahkan sama saja dorang (perusahaan) sudah musnahkan kami Orang Papua. Karena itu, kami tidak setuju penggusuran dusun sagu, apapun yang terjadi. Kami sudah ada keputusan dari batin hati. Kami tanggung sendiri akibatnya baik atau tidak”, jelas mama Doli tegas.

    Mama Doli juga menjelaskan manfaat dari Dusun Sagu yang sudah menghidupkan masyarakat turun temurun, “Sudah dari moyang kami sampai sekarang, kami hidup dari sagu, untuk makanan, obat melahirkan, ramuan rumah dan pendapatan uang, sampai kami sudah jadi manusia sekarang. Kalau ini dimusnahkan, kami mau hidup dengan apa, anak cucu kami mau makan apa. Karenanya, dusun sagu tetap tinggal pada posisi yang sudah ditanam oleh Tuhan yang dikaruniakan di tanah Papua ini”, jelas mama Doli.

    Pada Rabu, 28 September 2016, Ravin dan Imam dari RSPO, mengunjungi Dusun Sagu yang tergusur dan berdialog dengan masyarakat adat Yerisiam di Kampung Sima. Edi Suhardi dari Goodhope di Jakarta dan Kipli Anak Ayom, GM PT. Nabire Baru, juga ikut dalam pertemuan. Mama Doli dan perempuan Yerisiam lainnya hadir di Balai Adat Yerisiam. Mereka turut berbicara dan terlibat dalam ketegangan perdebatan penggusuran dusun sagu.

    Mirna Hanebora mengungkapkan perasaannya dalam pertemuan tersebut, “Dusun sagu ini ibarat perut masyarakat, kalau kamorang (kalian) bongkar dusun sagu sama saja kamorang bongkar perut kami masyarakat, makanya kami marah. Sampai kapanpun kami menolak penggusuran dusun sagu, mohon perusahaan hargai kehidupan kami”, ungkap Mirna.

    Ank, Sept, 2016

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on