Oleh: Olland Abago

Dewasa ini sebagian warga terutama kelas bawah di kota Sorong Papua Barat sudah mencapai titik memprihatikan soal kebutuhan air bersih. Pasalnya, cadangan air kali Remu (kepala air HBM) yang digunakan oleh PDAM milik Pemda untuk memenuhi kebutuhan warga, ternyata belum mampu sepenuhnya menjawab kebutuhan air bagi warganya.

Krisis air akibat hutan yang tersebar di perbukitan sekitar Kota Sorong semakin menipis. Bahkan cadangan air sumur dan air kali sudah kosong. Warga justru cari air disaat musim kemarau.

Nampak, hutan di puncak gunung-gunung Sorong saat ini di ambang krisis. Hal ini disebabkan karena kesadaran warga yang menebang pohon secara liar masih terus terjadi dan sebagian warga juga menggunakan lahan hutan sebagai tempat mereka berkebun, serta adanya galian pasir (tambang pasir) oleh pengusaha, tentu aktifitas ini membuat daya dukung bagi ketersediaan air makin menipis. Merupakan ancaman yang serius untuk ekosistem hutan itu sendiri. Biasanya disaat musim hujan tiba, selalu banyak terjadi tanah lonsor di kawasan bukit-bukit Malanu dan pemukiman Worot, Kamnas Klademak III dan komples lainnya yang berada dibalik perbukitan.

Mengingat struktur tanah di wilayah kota Sorong serupa dengan tanah di Jawa Barat yang jenis tanah pasir (gunung pasir) karena struktur tanah yang sedemikian lemah itu, seharusnya ditanami banyak pohon besar agar mampu menahan erosi saat hujan sehingga tidak terjadi bencana longsor. Sebab, dengan bencana longsor biasanya mencemari aliran air yang di konsumsi oleh warga Malanu dan warga lainnya sebagai sumber kehidupan.

rua-forum-fosppmer

Rapat Umum Anggota FOSPPER

Jual Beli Air Bersih

Sementara pemukiman warga yang tinggalnya tidak bersentuhan langsung dengan bukit (gunung), selain sumur bor, mereka juga sering membeli air mineral yang dijual memakai truk tanki ukuran 2500 liter. Di jual dengan harga Rp. 320.000 – 350.000. Sedangkan untuk kapasitas 5000 liter di jual dengan harga Rp. 500.000 – 530.000. Banyaknya pembeli air dengan nilai mahal tersebut mengingat kualitas sumur bor biasanya berbau becek (bau tanah) sehingga warga jarang memakainya untuk di konsumsi.

Untuk mengantisipasi krisis air bersih, dewasa ini Pemda kota sedang berencana mengambil air dari kali Warsamsom di Jl. Utama Kab. Sorong – Kab. Tambrauw agar diharapkan dapat memenuhi kebutuhan warga kota Sorong.

Dengan melihat kondisi demikian, Forum Sosial Pemuda Pembaharuan Kota Sorong (FOSPPER) melalui rapat yang berlangsung pada 12 November 2016 di Ruang Kelas SD INPRES 102 Malanu Arter Sorong Papua Barat, merekomendasikan kepada pemda kota setempat agar;

  1. Perlu di tingkatkan kembali POS jaga polisi hutan di setiap gunung-gunung agar dapat menjaga hutan dari penebangan liar.
  2. Perlu reboisasi dan pemeliharaan hutan di gunung-gunung yang ada di wilayah kota Sorong.
  3. Sumur Bor untuk kebutuhan warga kota, dalam hal ini Pemda Kota (Instansi terkait) harus cepat lakukan upaya agar kebutuhan air dapat terpenuhi sebelum musim kemarau panjang
  4. Kebijakan pemda yang berkaitan dengan hutan dan air di tiap pemukiman warga, harus dan wajib melibatkan wadah-wadah (organ masyarakat di lingkungan setempat) agar nanti dapat berjalan secara efektif dan tepat sasaran karena dari mereka oleh mereka dan untuk kebutuhan mereka.
  5. Krisis air bersih di kota Sorong terjadi akibat kurangnya pola ruang yang baik. Pemda Kota sejauh ini belum melakukan RTRW secara tetap. Pola hubungan “kompromistis” dengan pejabat di lingkup RT/RW dan lain sebagainya harus juga melibatkan berbagai pihak yang terkena dampak. Warga wajib dilibatkan pada setiap proses bila ada Rancangan Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Sorong.

*Olland Abago adalah Tim Perumus Fospper

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Oleh: Olland Abago

    Dewasa ini sebagian warga terutama kelas bawah di kota Sorong Papua Barat sudah mencapai titik memprihatikan soal kebutuhan air bersih. Pasalnya, cadangan air kali Remu (kepala air HBM) yang digunakan oleh PDAM milik Pemda untuk memenuhi kebutuhan warga, ternyata belum mampu sepenuhnya menjawab kebutuhan air bagi warganya.

    Krisis air akibat hutan yang tersebar di perbukitan sekitar Kota Sorong semakin menipis. Bahkan cadangan air sumur dan air kali sudah kosong. Warga justru cari air disaat musim kemarau.

    Nampak, hutan di puncak gunung-gunung Sorong saat ini di ambang krisis. Hal ini disebabkan karena kesadaran warga yang menebang pohon secara liar masih terus terjadi dan sebagian warga juga menggunakan lahan hutan sebagai tempat mereka berkebun, serta adanya galian pasir (tambang pasir) oleh pengusaha, tentu aktifitas ini membuat daya dukung bagi ketersediaan air makin menipis. Merupakan ancaman yang serius untuk ekosistem hutan itu sendiri. Biasanya disaat musim hujan tiba, selalu banyak terjadi tanah lonsor di kawasan bukit-bukit Malanu dan pemukiman Worot, Kamnas Klademak III dan komples lainnya yang berada dibalik perbukitan.

    Mengingat struktur tanah di wilayah kota Sorong serupa dengan tanah di Jawa Barat yang jenis tanah pasir (gunung pasir) karena struktur tanah yang sedemikian lemah itu, seharusnya ditanami banyak pohon besar agar mampu menahan erosi saat hujan sehingga tidak terjadi bencana longsor. Sebab, dengan bencana longsor biasanya mencemari aliran air yang di konsumsi oleh warga Malanu dan warga lainnya sebagai sumber kehidupan.

    rua-forum-fosppmer

    Rapat Umum Anggota FOSPPER

    Jual Beli Air Bersih

    Sementara pemukiman warga yang tinggalnya tidak bersentuhan langsung dengan bukit (gunung), selain sumur bor, mereka juga sering membeli air mineral yang dijual memakai truk tanki ukuran 2500 liter. Di jual dengan harga Rp. 320.000 – 350.000. Sedangkan untuk kapasitas 5000 liter di jual dengan harga Rp. 500.000 – 530.000. Banyaknya pembeli air dengan nilai mahal tersebut mengingat kualitas sumur bor biasanya berbau becek (bau tanah) sehingga warga jarang memakainya untuk di konsumsi.

    Untuk mengantisipasi krisis air bersih, dewasa ini Pemda kota sedang berencana mengambil air dari kali Warsamsom di Jl. Utama Kab. Sorong – Kab. Tambrauw agar diharapkan dapat memenuhi kebutuhan warga kota Sorong.

    Dengan melihat kondisi demikian, Forum Sosial Pemuda Pembaharuan Kota Sorong (FOSPPER) melalui rapat yang berlangsung pada 12 November 2016 di Ruang Kelas SD INPRES 102 Malanu Arter Sorong Papua Barat, merekomendasikan kepada pemda kota setempat agar;

    1. Perlu di tingkatkan kembali POS jaga polisi hutan di setiap gunung-gunung agar dapat menjaga hutan dari penebangan liar.
    2. Perlu reboisasi dan pemeliharaan hutan di gunung-gunung yang ada di wilayah kota Sorong.
    3. Sumur Bor untuk kebutuhan warga kota, dalam hal ini Pemda Kota (Instansi terkait) harus cepat lakukan upaya agar kebutuhan air dapat terpenuhi sebelum musim kemarau panjang
    4. Kebijakan pemda yang berkaitan dengan hutan dan air di tiap pemukiman warga, harus dan wajib melibatkan wadah-wadah (organ masyarakat di lingkungan setempat) agar nanti dapat berjalan secara efektif dan tepat sasaran karena dari mereka oleh mereka dan untuk kebutuhan mereka.
    5. Krisis air bersih di kota Sorong terjadi akibat kurangnya pola ruang yang baik. Pemda Kota sejauh ini belum melakukan RTRW secara tetap. Pola hubungan “kompromistis” dengan pejabat di lingkup RT/RW dan lain sebagainya harus juga melibatkan berbagai pihak yang terkena dampak. Warga wajib dilibatkan pada setiap proses bila ada Rancangan Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Sorong.

    *Olland Abago adalah Tim Perumus Fospper

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on