Petaka Bencana Banjir Kembali di Wasior

0
445

Tahun 2010 lalu di Wasior, air sungai meluap dan membawa lumpur, pasir, batu dan batang kayu, menimbun kota dan kampung di kaki pegunungan Wondiboy hingga daerah pesisir pantai Teluk Wondama. Bencana banjir bandang terjadi. Aktivitas masyarakat lumpuh dalam sekejap dan sebagian besar penduduk mengungsi ke kota sekitar.

Laporan berbagai media (2010), menyebutkan banjir bandang tersebut menyebabkan 158 orang tewas dan 145 orang hilang. Infrastruktur jalan, jembatan, telekomunikasi dan listrik, mengalami kerusakan parah dan termasuk bandara udara setempat.

Hingga kini masyarakat masih trauma dengan bencana ekologis tersebut. Puing-puing batu dan log kayu, masih bisa ditemukan disepanjang kota Wasior dan sengaja dibiarkan menjadi monumen pengingat kejadian buruk tersebut.

Petaka bencana banjir kembali dialami warga Wasior. Sejak awal Februari 2019, hujan turun deras dan terjadi longsor dibukit curam Wondiboy, anak kali dan sungai besar banjir. Hingga Selasa malam (19 Februari 2019), sungai banjir disertai lumpur meluap dan menggenangi rumah warga di Kampung Rado dan Sanduai, setinggi ukuran pinggang orang dewasa.

Aktifis lingkungan setempat, Steve Marani, melaporkan peristiwa banjir dan longsor terjadi di belasan titik di Kali Rasu dan Kali Rado. “Ada beberapa titik cukup mengkhawatirkan karena terjadi penyempitan kali akibat longsoran, patahan dinding batu dikedua sisi bukit kiri dan kanan, tertumpuk pasir tanah dan pohon-pohon”, jelas Marani.

Kampung dan tempat yang terendam banjir, antara lain: Kampung Rado, Kampung Mori, Kampung Sanduai, Kompleks Huntap (Hunian Tetap) Maimari, Kompleks Perumahan Bappeda, dan Kompleks Huntap Wawiyaki. Sementara, jalan hubungan darat kota Wasior ke daerah ini masih terganggu.

Gereja setempat dipenuhi pengungsi. Kecemasan dan harapan diungkap dalam doa-doa. Kembali warga mendiskusikan dan menguraikan penyebab banjir bandang yang membawa malapetaka, mulai dari tuduhan kepada alam, dosa kolektif manusia dan cobaan Tuhan, hingga hal yang pragmatis, misalnya pembangunan hunian tetap tanpa mempertimbangkan kondisi alam setempat.

Paling serius disoroti, kebijakan dan keseriusan pemerintah mengurus tanah, hutan dan masyarakat adat setempat. Pada peristiwa banjir bandang Wasior, salah satu penyebab yang disoroti adalah kerusakan hutan oleh aktifitas pembalakan kayu di daerah ini secara massif oleh perusahaan pemegang ijin HPH maupun pengusaha tanpa ijin. Pemerintah tidak bergeming dan tetap melanjutkan pemberian ijin baru untuk perusahaan pembalakan kayu PT. Wijaya Sentosa (130.775 ha). Pemerintah juga telah mengeluarkan ijin lokasi kepada perusahaan kelapa sawit PT. Menara Wasior (32.170 ha) dan ijin usaha pertambangan emas kepada PT. Abisha Bumi Persada (36.410 ha).

Sorotan dan suara masyarakat masih diabaikan. Mungkin akan diperhatikan lagi setelah ada korban jiwa dari setiap bencana ekologis. Semoga tidak demikian.

Ank, Feb 2019