Serangan Terhadap Pembela Tanah

0
2949

Pembela tanah dan lingkungan adalah orang-orang yang mengambil tindakan damai, baik secara sukarela atau professional, untuk melindungi hak-hak atas tanah dan lingkungan. Mereka seringkali orang biasa yang mungkin tidak menyebut diri sebagai pembela. (Global Witness, “Defenders of the Earth”; 2017)

Masyarakat adat pembela tanah dan lingkungan tinggal disekitar dan dalam kawasan hutan, di daerah pedalaman dan atau di kota pusat pemerintahan, mereka melindungi tanah leluhur mereka dan mata pencaharian sumber hidup dari proyek-proyek pembangunan infrastruktur, usaha pertambangan, pembalakan kayu, perkebunan, pariwisata komersial dan sebagainya.

Mereka seringkali mengalami perlakukan tidak menyenangkan, ancaman pembunuhan dan serangan kekerasan sebelum mereka dibunuh. Bahkan jika mereka tidak dibungkam secara fisik dan dipenjarakan, posisi mereka digerogoti sedemikian rupa sehingga perjuangan mereka berhenti.

Para pelaku kekerasan, pembunuhan, kekerasan dan intimidasi serangan verbal, dapat bebas dari jeratan hukum. Global Witness (2017) mendokumentasikan hanya 10 orang dari 908 pembunuh diseluruh dunia yang dinyatakan bersalah antara tahun 2002 dan 2013. Impunitas ini mendorong keberanian pelaku, kekerasan dan ancaman terus meningkat.

Situasi ini dihadapi oleh pembela tanah dan lingkungan di Papua. Minggu ini (29 – 30 Juli 2019), Yakob Sowe, Kepala Marga Sowe di Kampung Ikana, Distrik Kais Darat, Kabupaten Sorong Selatan, mengalami serangan mengerikan, rumah dan kendaraan motor dirusak sekelompok warga setempat dengan membawa senjata tajam. Yakob Sowe terjebak dalam kamar rumah dan kelompok warga diluar bereaksi melempar rumah, memecahkan kaca jendela, merusak pintu dan bingkai jendela. Mereka mengancam hendak membunuh Yakob Sowe.

Sudah sejak tahun 2015, Yakob Sowe bersama Onesimus Wetaku bersama warga, aktif  memperjuangkan dan menuntut hak atas tanah, hutan dan dusun sumber pangan mereka yang diambil dan dihancurkan oleh perusahaan perkebunan kelapa sawit PT. Putera Manunggal Perkasa, anak perusahaan Austino Nusantara Jaya (ANJ) Group.

Yakob Sowe dan Onesimus Wetaku menjadi target dan menghadapi kebencian dari orang asal komunitas mereka sendiri. Pada Maret 2018, kelompok warga setempat dan diantaranya diketahui menjadi petugas humas perusahaan, melakukan serangan terhadap Yakob dan Ones. Salah satu diantaranya menggunakan parang memotong kearah isteri Ones, yang berhasil menghindar. Kekerasan verbal dan ancaman pembunuhan seringkali dilakukan orang tertentu dikarenakan aktifitas Yakob dan Ones.

“Kami diancam dibunuh dan didiskreditkan, dituduh membunuh tanpa bisa dibuktikan”, kata Ones Wetaku.

Peristiwa Selasa (30 Juli 2019), para penyerang berdalil Yakob Sowe dan Ones Wetaku, sebagai pelaku pembunuhan dengan menggunakan ilmu hitam terhadap anak dari salah seorang penyerang pada Februari 2019. Berbagai cara digunakan untuk menyerang para pembela tanah dan lingkungan.

Pembela tanah dan lingkungan, Petrus Kinggo, yang berdiam di Dusun Kali Kao, Kampung Asiki, Distrik Jair, Kabupaten Boven Digoel, juga mengalami tekanan dan ancaman kekerasan. Pada Minggu Kedua tengah malam Juni 2019, rumah Petrus Kinggo didatangi oknum anggota TNI berpakaian lengkap bersama tiga orang warga dari kampung tetangga. Mereka mengetuk rumah Petrus dengan keras dan kasar, hingga terdengar oleh tetangga sekitar.

Mereka menuduh Petrus sebagai pelaku pembunuhan warga yang tinggal jauh dari Kali Kao. Petrus menolak tuduhan tersebut dan tidak mengenal almarhum dimaksud. Oknum TNI mengeluarkan nada menekan dan mengancam mengkriminalisasi Petrus.

Pada Minggu berikutnya, Petrus didatangi orang perusahaan Korindo bersama petugas polisi membawa senjata pistol. Mereka setengah memaksa meminta Petrus untuk hadir dalam pertemuan membicarakan tanah untuk perkebunan kelapa sawit PT. Tunas Sawa Erma (TSE) POP E.

Sejak awal tahun 2018, Petrus Kinggo, pimpinan Marga Kinggo, bersama beberapa pimpinan adat di Dusun Kali Kao, menolak rencana perusahaan perkebunan kelapa sawit PT. TSE POP E yang akan mengambil hutan adat mereka. Sebelumnya kawasan hutan setempat menjadi konsesi perusahaan kayu PT. Bade Makmur Orissa (BMO), anak perusahaan Korindo juga. Masyarakat menolak rencana Korindo karena kerugian yang dialami saat operasi PT. BMO.

Pada Agustus 2018, foto Petrus tersebar dibeberapa rumah warga dan camp perusahaan, tanpa diketahui siapa pelaku dan tidak jelas tujuannya. Petrus menduga penyebar foto hendak mengintimidasi dikarenakan aktifitasnya melawan rencana perusahaan. Para pembela hak atas tanah dan lingkungan menjadi target kampanye kotor yang ekstensif dan agresif.

“Perusahaan menggunakan berbagai cara untuk merayu dan mendapatkan tanah. Kemarin (30 Juli 2019), orang humas perusahaan membawa peralatan sekolah, buku tulis, pensil dan pulpen, katanya buat anak sekolah. Kami menolak bantuan itu”, cerita Petrus Kinggo.

Meningkatnya permintaan dan tekanan dari korporasi untuk mendapatkan sumber-sumber baru ekspansi usaha dan dilakukan dengan merampas tanah secara melawan hukum, mengabaikan hak masyarakat dan keberlanjutan lingkungan, mengakibatkan tekanan terhadap pembela tanah dan lingkungan semakin meningkat.

Negara seharusnya memastikan dan tidak membiarkan para pembela hak asasi manusia (HAM) atas lingkungan dan tanah menjadi korban terancam kehidupannya dan direndahan martabatnya. Negara harus mengambil langkah-langkah efektif untuk melindungi dan menyelesaikan keluhan dan perkara yang dialami masyarakat dan pembela tanah, mengusahakan kebijakan dan penegakan hukum yang menyelesaikan sumber permasalahan terjadinya pelanggaran HAM.

Ank, Agust 2019