Ekonomi Sagu Kali Kao dan Wabah Covid-19

Home/Berita, Orang-orang di Kawasan Hutan/Ekonomi Sagu Kali Kao dan Wabah Covid-19

 

Ekonomi Sagu Kali Kao dan Wabah Covid-19

Horor wabah dan endemi penyakit virus Corona (Covid-19) membuat suasana mencekam dan menakutkan. Angka jumlah pasien terjangkit dan meninggal dunia masih terus meningkat dengan cepat. Saya hampir selalu mengintip gadget aplikasi lacak penyebaran virus, untuk melihat zona-zona bahaya beresiko dan update status penanganan Covid-19, tanpa tahu pasti status kesehatan sendiri. Berspekulasi mengupayakan perlindungan diri secara mandiri berdasarkan informasi berita, poster panduan dan pesan terusan, seperti jaga jarak, cuci tangan dengan sabun di air mengalir, jangan sentuh wajah dan gunakan masker, minum ramuan jamu dan berjemur untuk meningkatkan daya tahan tubuh.


Pandemi virus maut bukan pertama kali bagi dunia dan Indonesia. Tahun 1918 – 1919, dikenal pandemi “flu Spanyol”, julukan ini diambil dari nama negara Spanyol yang pertama mengumumkan virus, meskipun virus tersebut bukan berarti berasal dari Spanyol dan terkesan stereotip rasial. Virus ini menyebar hingga ke Indonesia. Disitir dari kanal theconversation.com, diperkirakan total kematian penduduk di Indonesia yang terjangkit virus Spanyol sekitar 1,3 juta jiwa.


Rob Wallace, penulis buku Big Farm Make Big Flu: Dispathes on Influenza, Agribusiness and the Nature of Science (2016) dalam wawancara dengan marx21.de (2020), Wallace mengungkapkan peningkatan virus sangat terkait dengan produksi pangan dan profitabilitas korporasi-korporasi multinasional. Kompleksitas dan keberagaman fungsional yang direpresentasikan dari lahan yang luas dibabat sedemikian rupa sehingga patogen-patogen yang tadinya dikurung menyebar ke dalam peternakan lokal dan komunitas manusia.


Banyak patogen baru yang sebelumnya dijaga oleh ekologi hutan yang berevolusi panjang, kini keluar mengancam seluruh dunia. Agrikultur kapital menggantikan ekologi alamaiah dan melaluinya patogen berevolusi menjadi fenotip paling berbahaya dan mematikan. Penyakit Ebola, Zika, Corona, flu Kuning, berbagai flu burung dan flu Babi adalah beberapa diantara banyak patogen yang keluar dari pedalaman menuju pinggiran kota, ibukota dan akhirnya jejaring global.


Sejauh ini masih sedikit pembicaraan penanganan sumber penyebab virus dan hubungannya dengan model ekonomi industri agrikultur, peternakan dan perdagangan hewan. Model pembangunan ekonomi yang juga menjadi sumber masalah sosial ekonomi, dominasi korporasi atas penguasaan kekayaan alam dan akumulasi kapital yang tidak adil, eksploitasi buruh, praktik perampasan tanah dan sumber pangan masyarakat, represi negara dan pelanggaran HAM, penggundulan hutan dan bencana lingkungan.


Sementara, kebijakan pembatasan sosial telah menimbulkan dampak sosial ekonomi baru bagi pekerja hingga masyarakat pedesaan. Apakah korporasi dapat membayar ongkos dan dampak dari kerusakan yang dihasilkan. Negara terpaksa menanggung ongkos besar dari situasi darurat dan ancaman krisis sosial ekonomi ini dengan tambahan dana belanja dan pembiayaan penanganan Covid-19 sebesar Rp. 405,1 triliun.


Komunitas Wambon Tekamerop di Dusun Kali Kao, Boven Digoel, yang jaraknya ribuan kilometer dari Jakarta, tempat episentrum Covid-19, cukup cemas dan menyadari bahaya virus Corona. Potensi terjangkit tetap ada karena dusun dipinggiran hutan ini merupakan jalur perdagangan, terdapat aktifitas industri pengolahan kayu dan perkebunan besar. Masyarakat waspada dengan menolak kunjungan warga tak dikenal dari luar kampung.


Produksi ekonomi dan pangan komunitas Kali Kao tidak terpengaruh dengan bencana Covid-19. Masyarakat setempat masih melakukan aktifitas pergi ke kebun, mencari ikan, dan ‘pangkur’ tanaman sagu (ndu). Saat ini, perusahaan negara (BUMD) sedang bernegosiasi dengan warga setempat untuk menampung, membeli dan menjual kembali hasil tepung sagu. Tawaran pasar baru yang terkesan hendak menggantikan mesin ekonomi tengkulak.


Produksi ekonomi sagu sudah lama dilakukan untuk kepentingan pemenuhan pangan dan pendapatan warga setempat. Produksi sagu masih dilakukan dengan norma dan kebiasaan adat setempat. Masyarakat memiliki sistem tenurial yang mengakui dan menghormati penguasaan dan pemilikan wilayah, warga memiliki hak melakukan panen setelah mendapatkan restu dari pemilik tanah. Pengetahuan dan ritual adat setempat digunakan untuk menentukan daerah dan jumlah tanaman sagu yang akan di panen. Kontrol ini diperlukan untuk keberlanjutan produksi dan ekologi sagu dalam jangka panjang.


Peralatan produksi sagu terus berubah, saat ini peralatan kapak dan parang besi dominan digunakan untuk menebang, menguliti dan membelah pohon sagu. Peralatan mesin chainsaw dan mesin parut listrik mulai digunakan. Masyarakat menggunakan mesin-mesin modern tersebut secara bersama dan bergantian.


Belum ada pasar tenaga kerja seperti industri pertanian skala besar. Semuanya masih mengandalkan tenaga kerja keluarga dalam kampung dan tanpa pembagian kerja, kecuali jenis pekerjaan tertentu terdapat pemisahan kerja antara perempuan dan laki-laki. Jarang terjadi pekerjaan pangkur sagu hanya dikerjakan sendiri individu tertentu, karena ada resiko waktu, tenaga dan kwalitas tepung sagu yang dihasilkan. Bekerja bersama-sama adalah pilihan yang terbaik.


Ukuran pohon sagu dan waktu usia panen, kondisi lingkungan dusun setempat, sangat mempengaruhi jumlah dan kwalitas tepung sagu yang dihasilkan. Di Kali Kao, rata-rata produksi tepung sagu per pohon sebanyak 15 bola (ukuran lokal menggunakan bungkusan kulit dan pelepah sagu).


Mekanisme distribusi hasil merupakan masalah ekonomi yang penting dalam setiap sistem dan corak ekonomi. Dalam sistem produksi kapitalis tidak ditemukan mekanisme distribusi yang adil, sebaliknya eksploitasi tenaga kerja dan sumberdaya alam terus terjadi dalam menghasilkan dan menggandakan kapital. Produksi Sagu di Kali Kao mengutamakan pemenuhan kebutuhan pangan anggota keluarga, sehingga sagu yang dihasilkan dibagi kepada keluarga-keluarga yang terlibat dalam proses produksi. Berikutnya, tambahan dari produksi sagu dijual ke pasar di kota (Tanah Merah) atau pedagang pengumpul.


Harga jual sagu sebesar Rp. 100 ribu – Rp. 150 ribu per bola, harga berubah tergantung pada permintaan pasar yang masih sulit dikontrol oleh penghasil sagu di Kali Kao dan masyarakat produsen sagu lainnya. Berdasarkan angka harga pembelian di pasar tersebut, maka diperkirakan hasil pendapatan sagu komersial untuk setiap panen per pohon sagu sekitar Rp. 1.500.000,- dan atau Rp. 2.250.000.-. Keuntungan yang dihasilkan dari proses produksi hingga pasar dibagi secara setara merata kepada anggota yang terlibat dalam produksi.


Ekonomi pangan sagu seperti di Kali Kao banyak ditemukan pada pedesaan di Tanah Papua, dengan corak ekonomi skala kecil, menggunakan sebagian kecil tanah dan air, minim konflik tanah, minim limbah dan kerusakan lingkungan, yang pemanfaatannya mengutamakan pemenuhan kebutuhan pangan keluarga dan kesejahteraan bersama keluarga, serta mandiri dalam situasi darurat.


Namun corak produksi ekonomi pedesaan yang bermartabat seperti ini dituduh subsisten terbelakang dan anti kemajuan, minim perlindungan atas hak atas tanah dan hak kekayaan intelektual, minim perlindungan atas hak berusaha, modal dan akses pada pasar komersial. Berbeda dengan kebijakan dan fasilitas negara yang memberikan kemudahan terhadap korporasi untuk produktivitas dan pertumbuhan ekonomi, seperti RUU Cipta Kerja yang kontroversial.


Bagaimanapun diperlukan solusi cerdas untuk mencegah dan mengatasi sumber penyebab virus melalui perubahan dan penataan kembali corak pembangunan ekonomi yang bermartabat, berpihak pada rakyat banyak, adil dan lingkungan lestari.

Ank, April 2020

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA
    Share on