Masalah Proyek ‘Food Estate’ di Lahan Gambut Kalimantan Tengah

Home/Berita/Masalah Proyek ‘Food Estate’ di Lahan Gambut Kalimantan Tengah

Masalah Proyek Food Estate di Lahan Gambut Kalimantan Tengah

Koalisi Masyarakat Sipil dari berbagai organisasi dan aktifis lingkungan dan pembela hak masyarakat menolak Proyek Strategis Nasional, pengembangan food estate seluas 300.000 hektar pada lahan eks Proyek Lahan Gambut (PLG) sejuta hektar di Kalimantan Tengah. Proyek ini minim kajian ilmiah dan partisipasi masyarakat. Pemerintah tidak mengambil pembelajaran dari PLG yang menjadi sumber bencana lingkungan dan sumber utama kebakaran hutan lahan gambut. Upaya pemulihan  yang dilakukan selama ini tidak pernah efektif dan terus mengalami kegagalan karena tidak ada niat yang tulus dari pemerintah untuk melakukannya.

 

Dalam Pernyataan Pers (14 Juni 2020), disampaikan masalah Proyek Food Estate ini berdasarkan pengalaman proyek (PLG) sejuta hektar, yakni pertama, kurangnya kajian sosio ekologis ada ekosistem gambut, menyebabkan proyek sejuta hektar tersebut mengakibatkan kerusakan lahan gambut dan kerugian negara akibat kebakaran hutan dan penanggulangan bencana; kedua, proyek ini berpotensi merusak alam ekosistem rawa gambut dan mengancam hilangnya biodiversitas yang tinggi seperti kayu Ramin (Gonystylus bancanus) Meranti Rawa ( Shorea balangeran), hilangnya habitat asli orangutan ; ketiga, memicu terjadinya ketimpangan penguasaan lahan dan meluasnya konflik tanah di wilayah ini. (Selengkapnya baca Surat Pernyataan Sikap Koalisi Masyarakat Sipil disini: Hentikan Proyek Cetak Sawah di Lahan Gambut)

Koaliai mendesak pemerintha untuk merubah secara radikal sistem pertanian dan penggunaan lahan skala luas berbasiskan pada kedaulatan pangan dan kearifan lokal  untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan keberlanjutan alam dalam jangka panjang. Pemerintah seharusnya  melakukan diversifikasi pangan dan mengembangkan pangan lokal, melakukan intensifikasi lahan-lahan yang cocok  atau di lahan eks HGU / tanah terlantar di tanah mineral yang tidak dikelola untuk mengoptimalkan produksi pangan dan melakukan mekanisasi teknologi bagi petani, bukan di lahan gambut yang terbukti produktivitasnya rendah dan membutuhkan teknologi yang mahal.

Ank, Juni 2020

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    One Comment

    1. Suara Pusaka 17 Juni 2020 at 14:44 - Reply

      tes

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA
    Share on